Senin, 26 Juni 2017

Renungan dalam buku Bina Ibu, 1 November 2009

Renungan Pemberdayaan W/KI GMIM
Edisi Oktober-November 2009
1 November 2009

I Samuel 8: 1- 22.

Latar Belakang Naskah
Isi pokok kitab  I Samuel ialah Samuel Mempersiapkan Kerajaan. Siapakah Samuel ? Ia adalah tokoh peralihan dari zaman hakim-hakim ke zaman kerajaan. Ia pernah mengalahkan orang-orang Filistin di Mizpa, bukan dengan menghunus pedang tetapi dengan doa. Ia juga digambarkan sebagai seorang nabi dan pelihat. Ia secara rutin mempersembahkan korban dan berpakaian imam seolah-olah ia seorang imam, dan sebagai seorang hakim ia juga menjadi pemutus perkara dan perselisihan pada semua suku. Pendek kata, ia melakukan berbagai tugas yang diperlukan dalam komunitas Israel. Dalam hal ini, ia hampir serupa dengan tokoh Musa, apalagi menjelang akhir hidupnya ia menyampaikan wejangan perpisahan dan wasiat rohani (pasal 12).   
Ada dua  persoalan yang hendak dijawab dalam kitab ini, yaitu pertama, siapakah yang akan menjadi raja? Kedua,  siapakah yang akan menggantikan raja itu?
Bagian alkitab yang kita baca hari ini menceritakan tentang keinginan umat Isreal untuk memperoleh raja yaitu dengan memohon kepada Samuel agar ia mengangkat raja bagi mereka bukan dari anak-anaknya yang berprilaku buruk itu.

Khotbah :             Jabatan dan Demokrasi
       
Ada ungkapan yang sudah sangat lama kita tahu dan yang sampai sekarang masih kita dengar dan atau pakai yaitu : ‘buah jatuh tidak jauh dari pohonnya’. Tanpa kita ingat bahwa bila pohon berada di tanah yang miring apalagi bila di bawahnya ada aliran sungai, maka pastilah buah yang jatuh dari pohon akan ‘pergi’ jauh-jauh sekali. Nah… ayat 1-3 secara khusus menceritakan fakta bahwa anak-anak Samuel yaitu Yoel dan Abia tidak hidup seperti ayahnya. Mereka berdua yang diangkat Samuel menjadi hakin atas orang-orang Israel ternyata tidak hidup seperti ayah mereka. Sebaliknya mereka mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan. Padahal tugas seorang hakim pada waktu itu ialah melayani umat Tuhan dengan benar dan adil. Jadi, sudah jelas sejak dahulu kala, ungkapan di atas tidak sepenuhnya benar. Begitu juga pada masakini kita mendengar, menyaksikan bahkan mungkin mengalami sendiri bahwa ada orangtua yang kelakuannya tidak baik, tetapi anaknya menjadi orang yang baik bahkan sangat baik.
Kembali kepada maksud ayat 1-3 tadi. Karena anak-anak-anak Samuel tidak dapat melanjutkan tugas dari ayah mereka sebagai Hakim atas bangsa Israel, maka para tua-tua meminta Samuel untuk mengangkat seorang raja. Alasan mereka ialah agar ada yang memerintah mereka seperti yang terjadi pada bangsa-bangsa lain. Permintaan mereka ini disampaikan oleh Samuel kepada Tuhan. Tuhan meresponnya dengan mengatakan  Samuel hendaknya mendengarkan permintaan itu, memperingatkan dan memberitahu mereka tentang hak raja. Di sini dimaksudkan agar mereka tahu akan segala konsekuensi memiliki seorang raja. Ada hak raja dan ada kewajiban rakyat/umat seperti yang tertuang dalam ayat 11-18. Adanya hak raja berarti berkurangnya hak rakyat yaitu rakyat harus merelakan sebagian miliknya untuk kebutuhan hidup sang raja dan kerajaannya. Rakyat harus memberi apa yang menjadi hak raja karena raja mempunyai kewajiban terhadap para pegawainya. Hak raja yang mengharuskan rakyat menyerahkan apa yang ada padanya bahkan sampai menjadi budak sekalipun, ternyata tidak menyurutkan niat mereka untuk mendesak Samuel agar mereka memiliki seorang raja. Akhirnya, atas firman Tuhan, permintaan mereka dikabulkan.
Nah … ada beberapa hal yang menjadi bahan pelajaran iman bagi kita di  masakini yaitu :
Pertama : jabatan orangtua tidak serta merta dapat diwariskan kepada anak-anak. Tidak semua anak sama baiknya dengan orangtua. Kalau memang orangtua bermaksud mewariskannya maka haruslah dipersiapkan dengan matang dan tentu saja atas restu Tuhan. Anak-anakpun tidak dapat menerima begitu saja ‘warisan’ itu tanpa bertanggungjawab atas keperluan atau kepentingan atau maksud jabatan itu.




Kedua, kehendak untuk mendapatkan seorang raja atau pemimpin bukan semata agar menjadi sama dengan bangsa lain. Melainkan kesadaran akan tanggungjawab menjadi suatu bangsa yang dipimpin langsung oleh seorang manusia dengan segala hak-haknya. Kesadaran itu harus ada agar rakyat jangan seenaknya ‘berteriak’ kepada Allah bila raja tersebut tidak melaksanakan tugasnya dengan baik atau sesuai harapan rakyat.
Ketiga, Tuhan Allah melalui Samuel mengajarkan cara berdemokrasi yang santun. Mendengar, mengingatkan dan memberi informasi apa adanya adalah kegiatan dan proses berdemokrasi yang harus dikerjakan oleh seorang fasilitator. Samuel di sini bertindak sebagai perantara umat dengan Tuhan atau sebagai fasilitator sedangkan umat/bangsa yang memutuskan sendiri.
Keempat, Tuhan Allah itu sangat peduli dengan segala kehendak manusia. Karena itu Ia bersedia mendengar melalui hamba-Nya Samuel. Namun, Ia memberi wawasan agar manusia melakukan sesuatu dengan sadar. Umat dibelajarkan untuk tidak asal minta atau ‘iko rame’.
Kiranya, kita kaum perempuan/kaum ibu gereja dapat mengambil sikap yang berkenan kepada-Nya bila dihadapkan pada masalah-masalah jabatan dan kuasa. Apalagi kita baru saja selesai dengan proses pemilihan pelayan khusus tingkat jemaat. Semoga mereka yang terpilih betul-betul menerapkan prinsip kepemimpinan demokratis berdasarkan kehendak-Nya.  Amin

Materi Diskusi
-       Mengapa ada anak yang menjadi tidak baik atau berprilaku buruk padahal orangtuanya terkenal baik dan menjadi panutan banyak orang ? Ceritakanlah pengalaman, pengamatan dan pendapat ibu-ibu!
-       Ceritakanlah pengalaman ibu-ibu tentang hal berdemokrasi dalam keluarga, gereja dan masyarakat.

Implementasi

Praktekkanlah kepemimpinan demokratis a.l. melalui kegiatan kepanitian atau kelompok kerja.

Renungan dalam Buku Bina Ibu, 24 Mei 2009

Renungan Pemberdayaan W/KI GMIM
Edisi April – Mei 2009
Minggu ke-4, 24 Mei 2009

Bilangan 10 : 1-10
                                              
Latar Belakang Naskah
Kitab Bilangan secara umum berisi berbagai cerita dan hukum atau peraturan yaitu bagaimana umat Israel hidup dan  tentang keimaman. Keimaman artinya tentang peran para imam yaitu sebagai perantara antara umat Israel dengan Tuhan Allah. Di antara umat Israel yang dikaruniai tugas untuk menjadi Imam berasal keturunan Lewi yaitu Harun dan  keturunannya. Pasal 10:1-10 adalah merupakan tambahan hukum dalam mana para Imam yaitu anak-anak imam Harun berperan. Hukum dan keimaman bagi umat Isreal yang berada dalam perjalanannya di padang gurun memerlukan ketentuan bersama yang harus dipatuhi. Bila tidak ikut ketentuan, maka ‘bahaya’ yang dihadapi akan tidak dapat diatasi.

Khotbah  :       Dipanggil dan Diutus

Bersama-sama dengan orang Kristen sedunia, kita baru saja merayakan Hari Kenaikan Tuhan Yesus ke sorga pada hari Kamis, 21 Mei 2009. GMIM menetapkan hari Kenaikan sebagai Hari Persatuan Wanita/Kaum Ibu GMIM (sebagaimana juga hari-hari raya gereja lainnya seperti hari Pentakosta ditetapkan sebagai hari Persatuan Pria/Kaum Bapa). Kita juga sebagai bagian dari anggota Persekutuan gereja-Gereja di Indonesia akan merayakan tanggal 25 Mei (besok) sebagai hari Ekumene Indonesia. Karena itu, tepat sekali pembacaan kita tadi yang saya beri tema : Dipanggil dan Diutus.

Pembacaan kita tadi berisi cerita tentang peran alat tiup Nafiri untuk memanggil umat berkumpul dan untuk menyuruh laskar-laskar berangkat menghadapi segala gangguan keamanan perjalanan umat Israel di padang gurun. Alat tiup Nafiri ini sangat penting untuk memberi ‘aba-aba’ atau perintah atau komando. Sebab itu, ada aturannya pula bagaimana meniupnya untuk setiap jenis. Maksudnya yaitu untuk memanggil berkumpul dan untuk menyuruh pergi. Nafiri ditiup pada saat mempersembahkan korban-korban bakaran dan korban keselamatan. Demikian juga, ada aturan tentang yang meniupnya hanyalah anak-anak imam Harun. Mengapa demikian ? Supaya mereka diingat di hadapan Tuhan  Allah dan diselamatkan dari musuh-musuh.
Nah, bila hanya membaca sepintas, kelihatannya bacaan kita ini hanya bercerita tentang hal yang kecil dan yang terjadi di masa lampau dalam konteks atau situasi umat Israel yang jelas-jelas sedang dalam perjalanan dan menghadapi musuh.
Sesungguhnya, bila kita membaca lebih lama dan lebih cermat, maka kita mendapatkan kekayaan firman Tuhan dari dalamnya untuk kehidupan kita jemaat pada umumnya dan kaum ibu/kaum perempuan pada khususnya. Pesan firman pembacaan ini bagi kita di masa kini ialah apapun yang kita hendak lakukan ada dalam pengetahuan atau ingatan Tuhan agar umat hidup selamat, karena itu lakukanlah segala sesuatu menurut kehendak-Nya.
Bukankah kita sebagai orang kristen/kaum perempuan kristen di masa kini juga sedang dalam perjalanan dan sedang berjuang mengisi kehidupan di jaman yang makin rumit ini ? Bukankah kita kaum perempuan kristen menghadapi banyak persoalan kehidupan seperti a.l. terjadinya banyak kekerasan terhadap kaum perempuan baik di dalam rumah tangganya maupun di tempat kerjanya? Juga banyak perempuan yang harus terkena penyakit yang sulit disembuhkan seperti HIV/AIDS karena ulah pasangan hidupnya atau karena hal-hal di luar kehendaknya sendiri ?  Juga banyak perempuan yang harus membanting tulang bekerja (baik di dalam rumahnya maupun di tempat bekerja) tanpa ada kesempatan untuk mengurus dirinya sendiri sehingga perempuan ini bukan hanya berperan ganda tetapi berbeban ganda; banyak perempuan hanya tahu kewajibannya tanpa tahu dan menikmati hak-haknya ? Nah, kalau kita semua menyadari kenyataan pergumulan kita bersama maka kita sama dengan umat Israel seperti yang kita baca tadi yaitu berada dalam perjalanan dan perjuangan.





Lonceng gereja adalah salah satu alat penting dalam kehidupan beriman kita. Lonceng ini berfungsi memanggil jemaat untuk berkumpul beribadah. Beribadah dalam banyak bentuk dan tak terbatas hanya di gedung gereja. Berkumpul untuk beribadah untuk mendengar suara Allah, suara kasih, firman kehidupan. Pada akhir setiap ibadah, kita diutus untuk pergi dan berbuat. Kita mendapat berkat untuk pergi dan berbuat  menyalurkan berkat Tuhan itu. Dengan kata lain, bila kita berkumpul atau bersekutu (koinonia), kita bersaksi (memberitakan atau marturia) tentang kehendak Tuhan dan pada gilirannya kita diutus untuk melakukan apa yang kita saksikan (diakonia). Kita melakukannya  karena Tuhan bersama kita, Tuhan menyelamatkan kita. Jadi, berkumpul, bertemu, bersekutu adalah strategi pelayanan kita menjadi berkat. Kita berkumpul, bukan sekedar berkumpul tetapi untuk pergi.  Atas dasar firman ini maka tugas kita masing-masing dan bersama-sama untuk mengatasi berbagai masalah hidup kita. Berkumpul atau lebih tepat beribadah agar kita dapat menjawab dan mengatasi kesulitan-kesulitan hidup kita : kita bicarakan bersama, kita cari bersama asal-usul atau penyebab masalah lalu kita cari jalan keluar bersama. Bila ada di antara kita yang tidak mengalami kesulitan : bantulah mereka yang kesulitan. Beribadah berarti menumbuhkan rasa solidaritas atau setia kawan di antara kita : yang lebih membantu yang kurang, yang susah dibantu oleh yang tidak susah, yang kaya membantu yang miskin. Amin.

Materi Diskusi : pilih salah satu bila waktu terbatas.
1.    Marilah kita evaluasi tentang segala kegiatan kita dalam Komisi Wanita/Kaum Ibu : apakah artinya kita berkumpul atau beribadah ? apakah kita membicarakan masalah-masalah kita untuk mencari jalan keluar bersama ?
2.   Mengapa kita beribadah dalam kelompok Komisi Wanita/Kaum Ibu : ceritakan pengalaman kita, apa yang kita dapat dalam ibadah-ibadah kita, apakah dengan mengikuti ibadah kita mendapat ‘pedoman’ untuk mengatasi masalah kita ?
3.   Bila ada di antara kita yang mengalami masalah kesehatan seperti HIV/AIDS atau kekerasan dalam rumah tangga : apa yang dapat kita lakukan bersama ?

Implementasi /penerapan dalam kegiatan nyata

- Wanita/Kaum Ibu perlu mengetahui hak-hak hidup termasuk berkarya sebagai bagian dari Hak Asasi Manusia. Agar ada keseimbangan antara kewajibannya  dan hak-haknya.

Renungan BIna Ibu, 3 Januari 2009

 Renungan Pemberdayaan W/KI GMIM
Bina Ibu edisi Des 08-Jan09
Minggu 3 Januari 2009

Kejadian 26: 1-35     :    Hidup adalah Perjuangan

Kita sedang menghirup udara tahun baru di minggu ketiga. Tentu segala kesibukan yang rutin telah mulai berjalan normal.  Sebab, biasanya pada minggu pertama dan kedua, ada orang yang masih malas kerja,  masih ingin menikmati libur natal dan tahun baru. Padahal tahun ini memerlukan orang-orang yang bukan hanya sehat dan kuat, melainkan juga orang yang rajin, tekun dan disiplin. Nah… pembacaan Alkitab kita ini menceritakan tentang :
1.    Ishak yang harus pindah ke Gerar karena kelaparan di negeri asalnya. Di tempat yang baru ini (Gerar), Tuhan berfirman kepada Ishak. Isi Firman itu ialah pernyataan Tuhan Allah bahwa Ia akan menyertai dan memberkatinya dengan  negeri tempat kediamannya dan dengan banyak keturunan. Dari keturunannya  semua bangsa akan mendapat berkat. Mengapa Tuhan melakukan ini ? karena Tuhan mengingat  ayahnya Ishak yaitu Abraham yang telah setia melakukan kehendak-Nya.
2.    Ishak adalah seorang yang bertindak hati-hati. Ia kuatir kalau-kalau ia dibunuh bila orang mengetahui bahwa Ribka yang cantik itu adalah isterinya. Untuk itu ia tidak berterus terang bahwa Ribka adalah isterinya, melainkan saudaranya.
3.    Ishak bekerja sebagai petani dan mendapatkan hasilnya seratus kali lipat. Ia diberkati oleh Tuhan. Makin lama ia makin kaya. Kekayaannya ini membuat orang Gerar/Filistin cemburu dan karena itu maka ia disuruh  keluar dari Gerar.
4.    Ishak berpindah tempat dan menetap di lembah Gerar. Tanah Gerar adalah tanah yang pernah ditempati oleh ayahnya Abraham. Pada zaman ayahnya banyak sumur yang digali. Tetapi sayang, sumur-sumur ini telah ditutup oleh orang Filistin. Saat Ishak berada di lembah Gerar, ia menggali kembali sumur-sumur itu. Ternyata di sumur-sumur itu terdapat banyak mata air yang sangat diperlukan oleh para gembala. Sempat terjadi pertengkaran di antara gembala Ishak dengan gembala orang Gerar.
5.    Dari Gerar, ia berpindah ke Bersyeba. Di tempat ini Tuhan menampakkan diri dan berfirman agar ia tidak takut. Tuhan akan menyertai dan memberkatinya serta memberikan keturunan yang banyak. Ishak membuat mezbah dan memasang tenda di situ tempat tinggalnya dan para hambanya . Di tempat ini mereka menggali sumur.
6.    Melihat keberhasilan Ishak yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain, datanglah Abimelekh dari Gerar dan rombongannya menemuinya. Ishak menyambut mereka dengan mengatakan : bukankah kamu membenci aku dan menyuruh aku keluar dari tanahmu ? Ternyata kedatangan mereka karena mereka melihat bahwa Tuhan menyertainya. Mereka ingin mengikat perjanjian dengannya. Isi perjanjian itu ialah agar satu sama lain tidak berbuat jahat, tidak saling mengganggu. Akhirnya Ishak menjamu mereka.
Cerita ini hendak menyampaikan beberapa hal kepada kita yaitu :
1.    Apa yang diimani Ishak adalah buah atau hasil didikan orangtuanya. Abraham telah berhasil menanamkan iman kepada Allah bagi anaknya. Sebab itu, setiap kali Allah berfirman kepada Ishak, nama ayahnya Abraham disebutkan. Bahwa Allah Abraham adalah juga Allah-nya Ishak. Dia itulah yang menyertai, memberkati, memberikan keturunan, memberi hasil yang berlipat ganda. Ketaatan Abraham menjadi dasar Allah memberi perhatian kepada Ishak. Ternyata Allah itu setia dengan janji-Nya. Ia dengan firman-Nya selalu ada bersama dan untuk Ishak.
2.    Bagi Ishak, keluarga adalah hal yang utama. Untuk itu ia tidak mau kalau ia binasa hanya karena tidak trampil membawa diri. Ia sangat menjaga keharmonisan hubungan dengan orang lain. Saat disuruh keluar dari kampung Gerar, ia ikut saja. Namun pada saat ada kunjungan Abimelekh yang telah  menyuruhnya keluar kampung, ia tidak dendam tetapi sebaliknya ia akhirnya menjamu mereka.
3.    Ishak adalah contoh seorang yang selalu siap menghadapi kenyataan bahwa ia harus perpindah-pindah tempat. Ishak adalah sosok yang tidak mau ribut dengan orang lain. Ia lebih memilih pindah tempat untuk memulai dan membangun kehidupannya yang lebih baik.  Ia adalah seorang pekerja keras dan ulet, seorang petani yang rajin serta kreatif. Menggali sumur adalah salah satu tanda bahwa ia ingin terus hidup dan menghidupkan. Air yang banyak sangat dibutuhkan dalam pertanian terutama untuk hewan peliharaan yang membantu kelancaran pekerjaan bertani.
4.    Keturunan Ishak menjadi berkat bagi semua kaum di bumi. Keberadaan keluarga besarnya di manapun berada akan menjadi berkat. Jadi, mereka mendapat berkat untuk menjadi berkat bagi orang lain atau bagi siapa saja yang mereka jumpai.  
Inilah pelajaran berharga bagi kita yang hidup sudah   berpindah di tahun baru dan sedang menikmati kehidupan di tahun baru dengan segala kesempatan dan tantangan yang harus dihadapi. Percaya dan mempercayakan diri kepada-Nya adalah modal dasar melanjutkan hidup di tahun baru ini. Dialah Tuhan atas sejarah hidup kita sampai sekarang dan untuk seterusnya. Sebagai wujud penerimaan dan syukur kita di tahun baru ini ialah menjaga keharmonisan keluarga dan tetangga/jemaat/masyarakat. Agar keberlanjutan hidup yang sejahtera, maka kerja keras dan setia serta disiplin ditumbuh-kembangkan. Hidup ini harus diperjuangkan menurut maksud Tuhan. Hidup ini sebagai berkat Allah, dan karena bertanggungjawab  menjadi berkat bagi orang lain atau siapa saja. Semoga Tuhan menolong kita. Amin

Pertanyaan :
1.    Apa pendapat kita tentang Ishak yang tidak terus terang mengatakan bahwa Ribka adalah isterinya melainkan saudaranya ?
2.    Apa tekad kita (pribadi dan persekutuan Wanita/Kaum Ibu) memasuki tahun baru