Senin, 01 September 2014

Menantikan Tuhan dengan Memperjuangkan Keadilan-Nya

Renungan untuk BAKI PGI 2012
Minggu Adven 4, 23 Des 2012
Mazmur  146 : 1 – 10
                                               Menantikan Tuhan adalah memperjuangkan keadilan-Nya.
Oleh : Pdt. Dr. Karolina Augustien Kaunang.
Menantikan Tuhan tidak berarti Tuhan baru akan datang. Menantikan-Nya adalah suatu tindakan responsif atas akta kelahiran-Nya.  Sebab Dia yang telah lahir terus berkerja sampai sekarang menuju kegenapan-Nya. Dalam pengertian ini kita menghayati   minggu adven 4 ini yang  sisa dua hari lagi tiba hari Natal. Jadi menanti berarti aktif melakukan sesuatu. Di sini tidak berlaku ungkapan : pekerjaan yang paling membosankan adalah menanti/menunggu. Menanti dengan aktif membahagiakan sebab sudah jelas titik berangkatnya dan untuk apa serta hendak kemana atau sampai di mana.
Pembacaan Alkitab ini adalah salah satu dasar dari hal menantikan Tuhan dengan tindakan nyata. Ayat 1-2 adalah hakikat orang percaya yaitu memuji dan memuliakan Tuhan selama ia hidup. Sebab Dia yang menjadikan dunia ini dan yang tetap setia untuk selama-lamanya (ayat 6,10). Dan dalam ayat 3-5 ada  nasihat agar hanya mempercayakan hidup orang percaya dan senantiasa berharap kepada Tuhan sumber keselamatan. Orang yang demikian adalah orang yang berbahagia.  Kesetiaan Tuhan itu menyangkut penegakan keadilan  bagi  mereka yang diperas, yang lapar, yang terpenjara, yang buta, yang dizalimi, yang benar, orang asing, anak yatim dan janda. Sedangkan jalan orang fasik (tidak pedulikan kehendak Tuhan, kelakuan buruk, jahat) dibengkokkan-Nya (ayat 7-9).
Bila orang percaya mengatakan bahwa kehidupannya adalah berdasarkan kehendak Tuhan atau mengikuti pola pelayanan Tuhan, maka pembacaan ini terutama ayat 7-9 harus menjadi tugasnya juga. Memuji dan memuliakan Tuhan dalam segala jenis ibadah bukanlah terpenting apalagi satu-satunya cara. Ibadah-ibadah liturgikal-seremonial hanyalah salah satu cara. Cara ini terlalu sering dilakukan orang percaya, dan melupakan cara yang  lain. Yang lebih parah lagi bila isi Firman dalam ibadah itu seperti syair dalam nyanyian, doa dan khotbah/renungan hanya tertuju pada masalah-masalah kebatinan dan kerohanian sempit dan individual. Atau sekedar pemuasan keinginan batiniah seorang. Padahal ibadah-ibadah liturgikal-seremonial  harus menjadi salah satu pangkal bertolak maju melakukan perubahan dan pembaharuan budi  dengan melakukan yang benar, adil, jujur dalam hidup pribadi, keluarga dan dengan  serta untuk semua orang.
Menantikan Tuhan Allah pada masa kini tidak bisa tidak yaitu memperjuangkan keadilan menurut kehendak-Nya, yaitu berpihak kepada mereka yang kecil, miskin, terpinggir, tertindas, dikerasi secara struktural.  Siapapun yang menjadi korban baik oleh pribadi-pribadi maupun oleh lembaga keumatan (tak terkecuali oleh lembaga agama/gereja) dan lembaga negara/pemerintah  harus menjadi sasaran dari perjuangan ini.
Terlalu kentara dalam di minggu-minggu adven, orang kristen menjadi lebih ‘manusiawi’ dengan kegiatan ‘berbagi kasih’ dengan anak-anak yatim piatu, orang miskin, orang jompo. Kegiatan ini bahkan sampai disiarkan melalui media massa dan elektronik. Kegiatan seperti ini belum menjadi program rutin sebagai tanda solidaritas yang berkelanjutan dan bahkan sampai pada upaya menemukan akar persoalannya untuk ditangani secara komprehensif. Terlalu sering, di saat-saat menjelang hari Natal, terjadi percekcokan karena uang tabungan, uang paket, beli pakaian sepatu, perabot rumah tangga, kumpul sumbangan. Akibatnya minggu adven sebagai saat-saat merenung  kembali (refleksi) dan bertindak (aksi) untuk keadilan dan kebenaran terabaikan.
Tinggal dua hari lagi kita akan merayakan Natal pertama dan masih ada waktu Tuhan bagi kita menanti kedatangan-Nya kedua kali. Mari kita memperjuangkan hidup kita pada umumnya yang masih berada dalam kesusahan, kemiskinan, ketidakadilan hukum dan hak asasi pada satu pihak, dan banyak pula yang terlilit oleh penyakit masyarakat, dibelenggu oleh nikmatnya kuasa, jabatan dan uang bahkan seks.
Perayaan Natal akan menjadi syaloom bagi kita bersama bila keadilan terus menjadi visi kita dan kita terus bermisi yakni berjuang membela yang adil dan benar sampai Tuhan datang kembali. Selamat merayakan Natal Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat dunia. Amin





Memberi Persembahan dengan Tulus

Memberi Persembahan dengan Tulus *
Markus 12 :38-44


Ada orang yang memiliki kekayaan yang luar biasa banyaknya, tetapi juga ada banyak sekali orang yang hidupnya susah dan miskin. Ada kesenjangan yang amat kentara baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Pertanyaannya di sini ialah apakah  orang yang kaya lantas secara spontan rela memberi dan berbagi. Saat saya berkunjung melayani di jemaat-jemaat, saya mendapati bahwa yang lebih banyak dan besar memberi dan berbagi adalah jemaat yang  berkekurangan daripada jemaat yang berkecukupan bahkan berkelebihan. Begitu juga dalam hal keramahan dan ketulusan. Banyak orang memberi untuk mengumpul bagi dirinya/kelompoknya/jemaatnya/gerejanya, tetapi masih kurang orang berbagi dari apa yang dikumpulkannya. Makanya tidaklah heran bila banyak uang tapi tidak pernah merasa cukup, akibatnya jatuh dalam perbuatan korupsi. Sedangkan orang yang mengumpul untuk berbagi karena ia ingin menjadi berkat bagi yang lain, ia berbagi dengan tulus tanpa maksud untuk sosialisasi diri.

Pembacaan Alkitab perikop kedua yaitu ayat 41-44 menceritakan tentang seorang janda miskin yang memberi persembahan dari semua yang ada padanya. Pada waktu yang sama banyak orang memberi persembahan dalam  jumlah yang besar. Tuhan Yesus memandang bahwa pemberian janda miskin ini lebih banyak daripada pemberian semua orang lainnya. Itu berarti selain banyak orang kaya, ada pula orang yang tidak kaya di situ, mungkin bertaraf ekonomi menengah atau kurang selain si janda miskin ini Dalam hal ini Yesus lebih melihat pada prosentase daripada sejumlah angka. Si kaya memberi banyak dari kelimpahannya, mungkin pemberiannya hanya sepersepuluh (10%) dari keseluruhan miliknya, yang lain mungkin memberi 50% sampai 75%. Sedangkan si janda miskin memberi 100%. Tuhan Yesus memandang pemberian persembahan dalam hal kualitas (prosentase) dan bukan pada kuantitas (jumlah nominal uang). Persembahan janda miskin ini dapat dihubungkan dan dimaknai dengan hakikat persembahan seluruh tubuh seperti yang tercatat dalam  Roma 12: 1 “ …supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah : itu adalah ibadahmu yang sejati”. Jadi, pandangan Yesus jelas bahwa persembahan itu adalah seluruh hidup. Dasar teologis di bagian Alkitab ini ialah memberi karena sudah diberi, memberi dengan tulus bukan karena peraturan atau ketentuan. Dalam hal ini, perlu jelas apa maksud kita dengan persembahan persepuluhan pada masa kini : hanya untuk dan dalam ibadah di gereja-kah ?

Saya membayangkan seorang pendeta/gembala sidang duduk di bagian depan dekat mimbar menghadap tempat/kotak persembahan dan memperhatikan anggota jemaat yang memasukkan uang ke dalamnya. Apalagi sekarang ini sudah ada jemaat yang membuat kotak persembahan yang seluruhnya terbuat dari kaca tembus pandang. Saya merasa tidak sejahtera bahkan sedikit ‘marah’ menyaksikan kotak persembahan ini.  Ada orang kaya yang memberi dengan jumlah yang besar dalam sampul yang tertera namanya, dan ada seorang janda miskin memberi semua uang yang ia miliki tanpa sampul Apa kira-kira yang akan dilakukan oleh  pendeta/gembala sidang itu? Kemungkinan besar ia akan mengumumkan jumlah  uang pemberian dari orang kaya itu. Sebab baginya yang penting kuantitas (berapa besar jumlah uang) bukan kualitas (berapa persen). Bahkan kepada anggota jemaat kaya itu disampaikan ucapan terima kasih yang hangat serta pujian. Sementara itu, pemberian anggota jemaat yang miskin itu luput dari perhatiannya. Jadi persoalan di sini bukan pertama-tama kepada orang yang memberi, tetapi pada pandangan (teologi) dari pendeta/gembala sidang itu. Bila bayangan saya itu terjadi, maka yang pertama-tama harus berubah ialah si pendeta/gembala sidang itu. Jangan-jangan teologi (alkitabiah) yang ia ketahui tidak mampu dipraktekkan dalam pelayanannya. Dalam hal ini, ayat 38-40 pembacaan awal kita perlu mendapat perhatian yaitu agar berhati-hati terhadap ahli-ahli Taurat.

Memberi dari kekurangan menurut ukuran manusia, ternyata menurut Yesus si janda miskin itu telah memberi dari seluruh yang dia miliki. Kekayaan dari si janda miskin ini ialah ia tidak kuatir akan hidupnya termasuk akan apa yang ia akan makan dan minum nanti. Ia kaya dalam kemurahan. Ia kaya dalam spirit hidup..Iapun memberi tanpa maksud apa-apa, apalagi untuk pamer dan cari nama. Dengan memberi seluruhnya maka ia telah  turut bersama dalam penyaluran berkat Tuhan yang digunakan untuk membangun kehidupan persekutuan.

Dalam dunia sekarang, di mana orang semakin individualistis dan yang mengukur segalanya dengan uang, telah menyebabkan orang berduit, pejabat publik yang berjabatan gerejawi (Pendeta/Penatua/Syamas atau Diaken) dan aktivis gereja terlibat praktek korupsi. Korupsi bukan sekedar mengambil yang bukan haknya, tetapi bersamaan dengan itu juga melakukan ketidak-adilan, ketidak-jujuran dan ketidak-benaran. Bukan tidak mungkin yang menjadi korban adalah anggota jemaat yang ia sendiri layani sebagai pelayan jemaat, dan sudah pasti yang menjadi korban adalah anggota masyarakat yang ia layani sebagai pejabat publik.
Sementara itu banyak orang yang berkekurangan bahkan miskin kurang mendapat perhatian dari gereja, padahal mereka itulah yang paling banyak menyumbang tenaga dan segala yang ada padanya dengan tulus untuk kebersamaan/persekutuan. Mereka adalah pelaku pontensial dalam berjemaat/bermasyarakat. Mereka adalah subyek dan obyek dalam kebersamaan yang setara dengan semua orang dalam bergereja/bermasyarakat. Kekayaan gereja adalah orang dan bukan uang. Bila demikian  maka dengan sendirinya seluruh yang ada padanya juga. Inilah kekayaan dan kekuatan bersama. Inilah karunia Tuhan yang harus terus menerus diberdayakan dan memberdayakan. Amin


  • Dimuat di Harian Tribun Manado, Minggu 31 Agustus 2014, hlm 1 dan 7










Rabu, 30 November 2011

Mazmur 146 :1-10

Renungan untuk BAKI PGI 2012
Minggu Adven 4, 23 Des 2012
Mazmur 146 : 1 – 10
Menantikan Tuhan adalah memperjuangkan keadilan-Nya.
Oleh : Pdt. Dr. Karolina Augustien Kaunang.
Menantikan Tuhan tidak berarti Tuhan baru akan datang. Menantikan-Nya adalah suatu tindakan responsif atas akta kelahiran-Nya. Sebab Dia yang telah lahir terus berkerja sampai sekarang menuju kegenapan-Nya. Dalam pengertian ini kita menghayati minggu adven 4 ini yang sisa dua hari lagi tiba hari Natal. Jadi menanti berarti aktif melakukan sesuatu. Di sini tidak berlaku ungkapan : pekerjaan yang paling membosankan adalah menanti/menunggu. Menanti dengan aktif membahagiakan sebab sudah jelas titik berangkatnya dan untuk apa serta hendak kemana atau sampai di mana.
Pembacaan Alkitab ini adalah salah satu dasar dari hal menantikan Tuhan dengan tindakan nyata. Ayat 1-2 adalah hakikat orang percaya yaitu memuji dan memuliakan Tuhan selama ia hidup. Sebab Dia yang menjadikan dunia ini dan yang tetap setia untuk selama-lamanya (ayat 6,10). Dan dalam ayat 3-5 ada nasihat agar hanya mempercayakan hidup orang percaya dan senantiasa berharap kepada Tuhan sumber keselamatan. Orang yang demikian adalah orang yang berbahagia. Kesetiaan Tuhan itu menyangkut penegakan keadilan bagi mereka yang diperas, yang lapar, yang terpenjara, yang buta, yang dizalimi, yang benar, orang asing, anak yatim dan janda. Sedangkan jalan orang fasik (tidak pedulikan kehendak Tuhan, kelakuan buruk, jahat) dibengkokkan-Nya (ayat 7-9).
Bila orang percaya mengatakan bahwa kehidupannya adalah berdasarkan kehendak Tuhan atau mengikuti pola pelayanan Tuhan, maka pembacaan ini terutama ayat 7-9 harus menjadi tugasnya juga. Memuji dan memuliakan Tuhan dalam segala jenis ibadah bukanlah terpenting apalagi satu-satunya cara. Ibadah-ibadah liturgikal-seremonial hanyalah salah satu cara. Cara ini terlalu sering dilakukan orang percaya, dan melupakan cara yang lain. Yang lebih parah lagi bila isi Firman dalam ibadah itu seperti syair dalam nyanyian, doa dan khotbah/renungan hanya tertuju pada masalah-masalah kebatinan dan kerohanian sempit dan individual. Atau sekedar pemuasan keinginan batiniah seorang. Padahal ibadah-ibadah liturgikal-seremonial harus menjadi salah satu pangkal bertolak maju melakukan perubahan dan pembaharuan budi dengan melakukan yang benar, adil, jujur dalam hidup pribadi, keluarga dan dengan serta untuk semua orang.
Menantikan Tuhan Allah pada masa kini tidak bisa tidak yaitu memperjuangkan keadilan menurut kehendak-Nya, yaitu berpihak kepada mereka yang kecil, miskin, terpinggir, tertindas, dikerasi secara struktural. Siapapun yang menjadi korban baik oleh pribadi-pribadi maupun oleh lembaga keumatan (tak terkecuali oleh lembaga agama/gereja) dan lembaga negara/pemerintah harus menjadi sasaran dari perjuangan ini.
Terlalu kentara dalam di minggu-minggu adven, orang kristen menjadi lebih ‘manusiawi’ dengan kegiatan ‘berbagi kasih’ dengan anak-anak yatim piatu, orang miskin, orang jompo. Kegiatan ini bahkan sampai disiarkan melalui media massa dan elektronik. Kegiatan seperti ini belum menjadi program rutin sebagai tanda solidaritas yang berkelanjutan dan bahkan sampai pada upaya menemukan akar persoalannya untuk ditangani secara komprehensif. Terlalu sering, di saat-saat menjelang hari Natal, terjadi percekcokan karena uang tabungan, uang paket, beli pakaian sepatu, perabot rumah tangga, kumpul sumbangan. Akibatnya minggu adven sebagai saat-saat merenung kembali (refleksi) dan bertindak (aksi) untuk keadilan dan kebenaran terabaikan.
Tinggal dua hari lagi kita akan merayakan Natal pertama dan masih ada waktu Tuhan bagi kita menanti kedatangan-Nya kedua kali. Mari kita memperjuangkan hidup kita pada umumnya yang masih berada dalam kesusahan, kemiskinan, ketidakadilan hukum dan hak asasi pada satu pihak, dan banyak pula yang terlilit oleh penyakit masyarakat, dibelenggu oleh nikmatnya kuasa, jabatan dan uang bahkan seks.
Perayaan Natal akan menjadi syaloom bagi kita bersama bila keadilan terus menjadi visi kita dan kita terus bermisi yakni berjuang membela yang adil dan benar sampai Tuhan datang kembali. Selamat merayakan Natal Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat dunia. Amin

Mazmur 146 :1-10

Renungan untuk BAKI PGI 2012
Minggu Adven 4, 23 Des 2012
Mazmur 146 : 1 – 10
Menantikan Tuhan adalah memperjuangkan keadilan-Nya.
Oleh : Pdt. Dr. Karolina Augustien Kaunang.
Menantikan Tuhan tidak berarti Tuhan baru akan datang. Menantikan-Nya adalah suatu tindakan responsif atas akta kelahiran-Nya. Sebab Dia yang telah lahir terus berkerja sampai sekarang menuju kegenapan-Nya. Dalam pengertian ini kita menghayati minggu adven 4 ini yang sisa dua hari lagi tiba hari Natal. Jadi menanti berarti aktif melakukan sesuatu. Di sini tidak berlaku ungkapan : pekerjaan yang paling membosankan adalah menanti/menunggu. Menanti dengan aktif membahagiakan sebab sudah jelas titik berangkatnya dan untuk apa serta hendak kemana atau sampai di mana.
Pembacaan Alkitab ini adalah salah satu dasar dari hal menantikan Tuhan dengan tindakan nyata. Ayat 1-2 adalah hakikat orang percaya yaitu memuji dan memuliakan Tuhan selama ia hidup. Sebab Dia yang menjadikan dunia ini dan yang tetap setia untuk selama-lamanya (ayat 6,10). Dan dalam ayat 3-5 ada nasihat agar hanya mempercayakan hidup orang percaya dan senantiasa berharap kepada Tuhan sumber keselamatan. Orang yang demikian adalah orang yang berbahagia. Kesetiaan Tuhan itu menyangkut penegakan keadilan bagi mereka yang diperas, yang lapar, yang terpenjara, yang buta, yang dizalimi, yang benar, orang asing, anak yatim dan janda. Sedangkan jalan orang fasik (tidak pedulikan kehendak Tuhan, kelakuan buruk, jahat) dibengkokkan-Nya (ayat 7-9).
Bila orang percaya mengatakan bahwa kehidupannya adalah berdasarkan kehendak Tuhan atau mengikuti pola pelayanan Tuhan, maka pembacaan ini terutama ayat 7-9 harus menjadi tugasnya juga. Memuji dan memuliakan Tuhan dalam segala jenis ibadah bukanlah terpenting apalagi satu-satunya cara. Ibadah-ibadah liturgikal-seremonial hanyalah salah satu cara. Cara ini terlalu sering dilakukan orang percaya, dan melupakan cara yang lain. Yang lebih parah lagi bila isi Firman dalam ibadah itu seperti syair dalam nyanyian, doa dan khotbah/renungan hanya tertuju pada masalah-masalah kebatinan dan kerohanian sempit dan individual. Atau sekedar pemuasan keinginan batiniah seorang. Padahal ibadah-ibadah liturgikal-seremonial harus menjadi salah satu pangkal bertolak maju melakukan perubahan dan pembaharuan budi dengan melakukan yang benar, adil, jujur dalam hidup pribadi, keluarga dan dengan serta untuk semua orang.
Menantikan Tuhan Allah pada masa kini tidak bisa tidak yaitu memperjuangkan keadilan menurut kehendak-Nya, yaitu berpihak kepada mereka yang kecil, miskin, terpinggir, tertindas, dikerasi secara struktural. Siapapun yang menjadi korban baik oleh pribadi-pribadi maupun oleh lembaga keumatan (tak terkecuali oleh lembaga agama/gereja) dan lembaga negara/pemerintah harus menjadi sasaran dari perjuangan ini.
Terlalu kentara dalam di minggu-minggu adven, orang kristen menjadi lebih ‘manusiawi’ dengan kegiatan ‘berbagi kasih’ dengan anak-anak yatim piatu, orang miskin, orang jompo. Kegiatan ini bahkan sampai disiarkan melalui media massa dan elektronik. Kegiatan seperti ini belum menjadi program rutin sebagai tanda solidaritas yang berkelanjutan dan bahkan sampai pada upaya menemukan akar persoalannya untuk ditangani secara komprehensif. Terlalu sering, di saat-saat menjelang hari Natal, terjadi percekcokan karena uang tabungan, uang paket, beli pakaian sepatu, perabot rumah tangga, kumpul sumbangan. Akibatnya minggu adven sebagai saat-saat merenung kembali (refleksi) dan bertindak (aksi) untuk keadilan dan kebenaran terabaikan.
Tinggal dua hari lagi kita akan merayakan Natal pertama dan masih ada waktu Tuhan bagi kita menanti kedatangan-Nya kedua kali. Mari kita memperjuangkan hidup kita pada umumnya yang masih berada dalam kesusahan, kemiskinan, ketidakadilan hukum dan hak asasi pada satu pihak, dan banyak pula yang terlilit oleh penyakit masyarakat, dibelenggu oleh nikmatnya kuasa, jabatan dan uang bahkan seks.
Perayaan Natal akan menjadi syaloom bagi kita bersama bila keadilan terus menjadi visi kita dan kita terus bermisi yakni berjuang membela yang adil dan benar sampai Tuhan datang kembali. Selamat merayakan Natal Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat dunia. Amin

Yohanes 11:1-45

Renungan untuk BAKI 2011
Minggu Pra Paskah V, 10 April 2011


Yohanes 11:1-45 Penyakit dan Kematian Bukanlah Akhir Perjuangan Iman.

Di minggu pra paskah ini, kita membaca Alkitab tentang Lazarus dibangkitkan. Sepertinya pemilihan bacaan ini tidak bertindih tepat dengan kalender gerejawi atau tahun gerejawi. Memang bila secara sepintas apalagi hanya terfokus pada peristiwa kebangkitan Lazarus, maka ketidak-relevanan bacaan di minggu ini cukup beralasan.
Namun, bila kita menelusuri ayat demi ayat dari 44 ayat ini, maka ada hal yang berkaitan dengan maksud minggu pra paskah yaitu menghayati arti penderitaan Yesus dan penderitaan orang beriman kepada-Nya.

Meski bagian Alkitab ini diberi judul Lazarus dibangkitkan, namun sesungguhnya yang paling banyak dibicarakan di sini adalah soal penyakit Lazarus. Yesus mengatakan bahwa bukan penyakit yang membawa kematian yang ditekankan, melainkan “penyakit itu menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.” (ayat 4). Kematian Lazarus membuat rasa kehilangan yang mendalam bagi Maria dan Marta. Bahkan Yesus sendiri turut menyaksikan Lazarus yang sedang terbaring kaku di tempat tidurnya (ayat 35). Dapat kita bayangkan kedekatan hubungan antara Yesus dan keluarga Lazarus, Marta dan Maria. Sampai-sampai Maria dan Marta begitu yakin bila Yesus ada bersama mereka pastilah saudara mereka Lazarus tidak mati. Sementara itu Yesus sebagai Tuhan tahu dengan pasti bahwa Lazarus pasti dapat hidup kembali, bahkan Yesus sempat bicara untuk mengurangi rasa putus harapan mereka dengan mengatakan bahwa Lazarus hanyalah tidur. Sebab Yesus adalah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan hidup walaupun sudah mati” (ayat 25).

Dari cerita ini, dapat ditarik beberapa butir refleksi :
1. Penyakit menyatakan kemuliaan Allah. Artinya setiap penyakit yang diderita oleh seseorang, pastilah Tuhan mengetahui dan ada maksudnya dan manfaatnya bagi diri sendiri dan karena itu bagi kemuliaan Tuhan. Dalam banyak hal penyakit kita hindari, kita berdoa dan berusaha agar kita tetap sehat dan jangan sakit. Tetapi bila penyakit itu datang, pasti ada maksud Tuhan bagi kita. Sama halnya dengan penderitaan. Tidak ada seorangpun yang menginginkan hidupna menderita, tidak ada seorangpun yang berdoa agar ia menderita. Tetapi, bila penderitaan itu datang menimpa hidup kita, baik itu karena ulah kita sendiri maupun karena ulah orang lain, pastilah Tuhan mempunyai maksud. Ada ungkapan “Tuhan tidak akan memberi cobaan yang melampaui kemampuan kita”.
2. Merasa kehilangan dan menangis atas kematian seseorang yang kita kasihi adalah suatu kewajaran alias manusiawi. Namun di tengah suasana ini, janganlah berputus asa. Selalu berpengharapan bahwa ada masa depan. Memang pada jaman sekarang ini adalah tidak mungkin mengharapkan bangkitnya seseorang yang sudah mati. Namun hal yang pasti ialah pengharapan di tengah kenyataan kematian ada kehidupan bila membawa segala keluh kesah dan pergumulan ini kepada Tuhan. Ia paling tahu apa yang kita harapkan dan yang kita butuhkan. Kedekatan dengan Tuhan akan teralami saat kita selalu berdialog dengan Dia melalui doa.
3. Peran perempuan untuk kehidupan sangat signifikan. Meski keberadaan dua perempuan di sini adalah suatu kebetulan, namun tercatatnya dua nama ini menyatakan bahwa peran perempuan dalam hal perhatian dan pengharapan akan kehidupan dalam tangan Tuhan sangat berarti. Bahkan mereka berhasil menggugah rasa kedekatan Yesus dengan keluarga mereka. Perilaku mereka ini adalah tulus bukan dibuat-buat, bukan untuk cari muka agar dapat perhatian. Persekutuan dan kedekatan yang sudah terjalin lama dan berkelanjutan menjadi dasar dari pengharapan mereka akan kehidupan dari Tuhan Yesus.
4. Kematian seseorang bukanlah akhir dari segala perjuangan orang beriman. Sebab kita mempunyai Tuhan Yesus yang adalah kebangkitan dan hidup. Barangsiapa yang percaya kepada-Nya, ia akan hidup walaupun sudah mati. Mari kita kutip juga pengakuan iman yang biasanya kita ucapkan dalam ibadah minggu di gedung gereja berbunyi antara lain “… Aku percaya kepada Roh Kudus; Gereja yang kudus dan am; persekutuan orang kudus; pengampunan dosa; kebangkitan daging, dan hidup yang kekal.”
Keempat butir refleksi ini menjadi bahan perenungan kita di minggu pra paskah V ini. Intinya : penyakit dan kematian bukanlah kata akhir dari kehidupan ini. Di jaman yang makin canggih ini, belum semua orang memandang dan menjadi bagian hidupnya serta kelakuannya sehari-hari tentang hidup adalah perjuangan yang harus dimaknai dengan hal-hal yang benar, adil, jujur, baik dan bermartabat. Sekalipun harus menderita, tetapi kebenaran, keadilan, kekujuran, kebaikan dan hidup bermartabat harus tetap dikedepankan menjadi jalan hidup kita. Amin

Yohanes 9 : 1-41

Renungan di Minggu Pra Paskah IV, 3 April 2011
Yohanes 9:1-41

Habis Gelap Terbitlah Terang dari dan di dalam Yesus

Salah satu tugas Gereja atau gereja-gereja ialah menyembuhkan bermacam-macam penyakit. Apapun jenis dan macam bahkan rupa penyakit itu (jasmani dan rohani) sama-sama menjadi perhatian Gereja yang adalah kawan sekerja Tuhan Allah di muka bumi ini sekarang ini. Gereja tidak hanya mengurusi hal-hal rohani yang tradisional seperti melayani ibadah seremonial dan pembinaan hal-hal menyangkut ajaran klasik dengan teologi yang belum transformatif kontekstual. Sementara itu masalah-masalah penyakit kontemporer seperti HIV/AIDS dan masalah-masalah sosial lainnya seperti trafficing dan kekerasan dalam rumah tangga, belum dilihat serius bahkan ada yang belum melihatnya sama sekali sebagai hal-hal yang harus segera ditanganinya. Tentu Gereja tidak dapat berjalan sendiri tanpa berkoordinasi dan bekerjasama dengan lembaga-lembaga terkait.

Syukurlah, di tengah kebelum-seriusan bahkan ketidakpeduliaan tadi, PGI bersama-sama dengan beberapa anggotanya (gereja-gereja) terus mensosialisasikan keberpihakannya kepada korban HIV/AIDS. Ini berarti sudah mulai terjadi perubahan paradigma bergereja yaitu tidak sebatas mengurusi atau melayani hal-hal ‘rohani’ saja. Bahkan lebih dari padanya, ada perubahan prinsip teologis dalam melihat kenyataan penyakit bukan sebagai akibat dari dosa (melawan kehendak Allah) dan karenanya bukan sebagai kutuk.

Kenyataan masa kini di atas, dapatlah kita bandingkan dengan kenyataan lain seperti yang kita baca dalam bagian Alkitab ini. Cerita tentang orang buta sejak lahirnya cukup panjang diuraikan. Ada pandangan pada masa itu yang menghubungkan antara dosa dan orang yang lahir buta. “Siapa yang berbuat dosa, orang buta itu sendiri atau orang tuanya?” demikian pertanyaan yang dilontarkan kepada Yesus oleh para murid-Nya. Jawaban Yesus di luar dugaan. Buta sejak lahir tidak ada kaitannya dengan keberdosaan seseorang. Hal ini terjadi karena kehendak atau pekerjaan/karya Allah bagi anak itu terutama dan tentu juga bagi orang tuanya. Oleh karena itu, maka atas kehendak –Nya pula maka orang yang buta ini kemudian dapat melihat. Cara Allah memelekkan mata orang ini cukup jelas dituliskan. Kenyataan buta menjadi tidak buta bukan dengan cara berdoa semalam suntuk atau melalui hipnotis dengan label ‘dunamis’ seperti yang dipraktekkan dalam kegiatan-kegiatan Kebaktian Kebangunan Rohani, melainkan dengan pengobatan alamiah : mengaduk ludah dengan tanah, mengoleskannya pada mata orang buta, kemudian orang itu disuruh untuk membasuh dirinya ke kolam Siloam. Sesudah itu, matanya terbuka. Jadi Yesus sendiri menggunakan alam ciptaan sebagai sarana menciptakan suatu hal yang sama sekali baru : dari tidak melihat dapat melihat, dari gelap menjadi terang, dari suasana lama ke suasana baru, dari ketidakadaan harapan berpengharapan, dari hidup masa bodoh menjadi bergairah. Pendek kata Yesus berkuasa untuk mengubah apa yang tidak dapat diubah oleh manusia, Yesus memungkinkan apa yang tidak mungkin. Yesus melakukan ini pada hari Sabat, yang oleh masyarakat beragama pada waktu itu tidak membolehkan orang berkerja termasuk menyembuhkan. Dia itu pemilik atas segala yang tercipta dan terus menerus mencipta : Ia masih terus bekerja sampai sekarang. Dalam Dia hidup manusia yang ‘terpuruk’ oleh masyarakatnya sendiri diubah menjadi hidup yang berfungsi dan berarti serta menjadi berkat. Bagi Yesus berbuat baik apalagi memelekkan mata orang buta sejak lahir dapat dilakukan kapan saja termasuk pada hari Sabat. Tentu, kita semua teringat akan ungkapan Ia itu “Tuhan atas hari Sabat.”

Segi lain yang menarik untuk kita ingat bahwa Tuhan tidak meminta orang percaya dulu baru ‘mujizat’ itu terjadi, melainkan sebaliknya sesudah terjadi mujizat itu baru kemudian Yesus bertanya:”Percayakah engkau kepada Anak Manusia?” Orang buta itu belum tahu sebelumnya siapa yang memelekkan matanya. Nanti sesudah terjadi dialog antara keduanya, maka semua menjadi jelas. “Aku percaya, Tuhan!”, demikian jawabnya. Orang yang matanya tidak buta lagi mengenal dan menjadi percaya kepada si pembuat mujizat itu. Dialah Yesus.

Di minggu pra Paskah IV ini, kita mengingat Yesus yang menderita sengsara karena a.l. ada salah pandang dari masyarakat beragama pada masa itu tentang keberadaan dan karya Yesus. Dalam iman kita meyakini bahwa kesengsaraan-Nya membawa keselamatan kepada semua orang bahkan semua ciptaan. Gereja diingatkan akan visi keselamatan dari dan dalam Yesus yang menderita untuk kemudian dilanjutkan/dilakukan (misi) pertama-tama bagi mereka yang mengalami penderitaan dan yang menjadi korban kejahatan zaman. Habis gelap terbitlah terang dari dan di dalam Yesus, Juruselamat dunia. Amin

Senin, 28 Desember 2009

HIDUP adalah PERJUANGAN

Khotbah untuk Buku Pemberdayaan W/KI
Edisi Des 2009 – Jan 2010
27 Desember 2009/ Minggu Antara

MATIUS 2 : 16 -23

Latar Belakang Naskah
Cerita ini adalah rangkaian dari cerita tentang kelahiran Yesus Kristus (pasal 1:18-2:23). Kelahiran Yesus pada satu pihak adalah kabar baik bagi orang-rang yang merindukan datangnya seorang yang akan menyelamatkan mereka dari dosa (1:21), tetapi pada pihak lain, adalah kabar buruk bagi raja Herodes yang memerintah waktu itu. Sebab berita yang sampai ke telinga Herodes yakni yang lahir ini adalah raja orang Yahudi (2:1). Sebagai seorang raja, Herodes punya banyak cara untuk menemukan Yesus yang baru lahir itu. Ia meminta kepada para Majus pembawa berita itu yang sedang mencari-cari bayi yang baru lahir itu, agar bila sudah bertemu, mengabarkannya kepadanya agar iapun datang menyembah bayi itu. Ini hanya akal-akalan dari Herodes. Malaikat menyuruh Yusuf dan Maria untuk segera lari meninggalkan tempat kelahiran itu (Betlehem) dan menuju ke Mesir, sebab Herodes akan mencarinya untuk membunuhnya (2:13-15).

Tema : Hidup adalah Perjuangan

Kelahiran Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dunia telah dan sedang kita rayakan
sejak tanggal 25 Desember. Kita sedang merayakan hari Natal-Nya. Dari tahun ke tahun
kita merayakannya dengan penuh sukacita mulai dengan biaya yang murah meriah
sampai pada yang sangat-sangat mahal/mewah, bahkan sering terkesan boros. Kita sering
lupa Natal-Nya pada awalnya berada dalam dua suasana yaitu suasana sukacita bagi
rakyat banyak dan suasana tegang/marah/geram bagi sang penguasa waktu itu yaitu
Herodes. Suasana sukacita terpancar dari upaya para Majus untuk menemukan bayi itu
dengan membawa hadiah-hadiah: emas, kemenyan dan mur. Juga para malaikat di sorga
menyanyikan nyanyian yang sungguh indah (seperti yang tertulis dalam Lukas 2:14).
Itulah yang menjadi dasar sukacita kita dalam merayakan Natal ini setiap tahun.
Sedangkan suasana sebaliknya sangat dirasakan oleh raja Herodes. Kelahiran Yesus
menjadi ancaman bagi ke’raja’an Herodes. Sebab menurut para Majus bahwa yang lahir
ini adalah seorang raja orang Yahudi.

Kemarahan raja Herodes ini telah membuatnya memutuskan untuk mencari bayi Yesus
dengan cara membunuh semua anak yang berumur di bawah dua tahun di Betlehem dan
sekitarnya. Kita (ibu-ibu) dapat membayangkan betapa berkabungnya masyarakat pada
waktu itu terutama para ibu bapa yang anaknya menjadi korban dari kemarahan raja.
Anak-anak sebagai buah cinta kasih ibu-bapa dibunuh begitu saja. Meskipun para
orangtua tahu sebab tindakan raja ini, tetapi perbuatan itu adalah kejahatan kemanusiaan
yang tidak boleh dilakukan apalagi oleh seorang pemimpin bangsa. Namun, itulah
kenyataannya. Peristiwa ini membelajarkan kita semua, siapapun kita, pemimpin dan
yang dipimpin, agar tidak membunuh siapapun hanya karena kepentingan sendiri.
Kehadiran seorang yang “lain” atau berbeda tidak harus dianggap sebagai ‘saingan’ atau
musuh. Tetapi sebaliknya sebagai mitra atau teman atau sahabat yang dapat membangun
kekuatan bersama. Bahkan kalau ternyata seorang yang lain itu ternyata lebih baik atau
berkualitas, maka terimalah dia sebagai orang yang lebih daripada kita. Jangan-jangan dia
adalah anugerah bagi kita yang berbeda.

Kelahiran Yesus, betapapun itu tidak disenangi oleh Herodes bahkan diupayakannya untuk dibunuh, tetapi karena memang Yesus dilahirkan untuk menyelamatkan, maka pastilah dia luput dari buruan Herodes. Malaikat terus melindunginya melalui orangtuanya dengan cara menghindari tempat-tempat berbahaya. Dari Mesir ke Galilea, bukan ke tanah Israel. Kedatangan Yesus bersama orangtuanya ke Galilea dari Mesir merupakan kegenapan dari firman yang disampaikan oleh para nabi bahwa Ia akan disebut : Orang Nazaret. Hal in menyatakan kepada kita sebagai orangtua (ibu-ibu) bahwa hidup itu harus diperjuangkan. Senantiasa menghindari bahaya. Menjadi orangtua terhadap anak yang masih kecil memerlukan kiat-kiat khusus agar anak terhindar dari berbagai bahaya. Bila sudah tahu ada bahaya apalagi sudah ada jalan keluar yang disediakan, haruslah segera dilaksanakan. Jangan menunggu dulu.
Begitupun dengan kita semua sebagai orang-orang dewasa (ibu-ibu). Hadapilah hidup ini
dengan menghindari musuh dan celaka. Jaman yang semakin canggih (rumit) ini,
diperlukan ketelitian, kewaspadaan, kehati-hatian, “ba pikir panjang”, cermat, namun
cepat memutuskan berdasarkan pertimbangan yang matang. Biar waktu cepat tetapi tetap
berhasil baik dan benar. Di atas semua itu, mohonlah petunjuk dari Tuhan melalui doa.

Kita sekarang berada di minggu terakhir tahun 2009. Sebelum kita melangkah lebih lanjut
meninggalkan tahun 2009 ini, sebaiknya kita menoleh dulu ke belakang, kita evaluasi
atau nilai kembali apa yang sudah kita lakukan, kita alami. Apakah yang sudah kita
lakukan terhadap diri kita sendiri, keluarga, gereja dan masyarakat ? Sesudah itu, kita
maju untuk meneruskan kehidupan yang Tuhan karuniakan ini untuk meninggalkan tahun
2009 dan memasuki tahun baru 2010. Tuhan kita adalah Tuhan atas sejarah hidup kita.
Berdoa dan berharap yang dilanjutkan dengan kerja keras dalam kebaikan dan kebenaan
hendaknya menjadi ciri hidup kita. Merayakan Natal-Nya berarti merayakan kehidupan
yang terus berlanjut agar dapat memasuki lagi tahun yang baru, tahun anugerah-Nya.
Amin

Bahan untuk diskusi
Bila kita tahu bahwa ada orang yang ingin membunuh kita, apakah yang akan kita lakukan ?
Upaya apa yang kita akan lakukan untuk memperjuangkan kehidupan yang penuh tantangan dan cobaan ini ?

Implementasi
Mengadakan pelatihan tentang hal mengenal siapa kita sendiri dengan kajian SWOT yaitu Strong (kekuatan), Weekness (Kelemahan), Opportunity (Kesempatan/Peluang), Threat (Ancaman). Pelatihan ini sebagai sampel atau contoh untuk mengenal keberadaan yang lebih luas lagi, seperti kelompok atau organisasi.